Create your blog and photo album with postbit
Create your blog and photo album

Create new post

Content:

Upload a picture:
Tags (keywords separated by comma)

Save Cancel
buur50mead:   Followers: 0 ; Following: 0


Pengertian Aqiqah Merujuk Agama Islam



Dari sisi bahasa ‘Aqiqah artinya: menguraikan. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya sosial binatang dengan penyembelihan tersebut. Ada yang mengatakan kalau aqiqah ialah nama bagi hewan yang disembelih, disebut demikian sebab lehernya dipotong Ada pun yang menunjukkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serabut yang ada pada kepala si budak ketika ia keluar daripada rahim permulaan, rambut tersebut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk balita yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, ataupun 21. Jumlahnya 2 sudut untuk momongan laki-laki dan 1 kontrol untuk budak perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi pamor dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Mulai Aisyah dia berkata: Nabi bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang serupa dan bocah perempuan wahid kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak tersebut tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih satwa untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Mulai Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, oleh sebab itu sembelihlah satwa dan hilangkanlah semua huru-hara darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Atas ‘Amr bin Syu’aib atas ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi dipastikan hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang serupa dan untuk perempuan tunggal kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW relasi ber ‘aqiqah untuk Rancak dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya, sira memberi pamor dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di AI-Mustadrak bab 4, hal. 264]

Tanggapan: Hasan & Husain merupakan cucu Rasulullah SAW.

Atas Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Laksmi, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, & al-Baihaqi]

Dari Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih saat hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua persepuluhan satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Menyandarkan Aqiqah Bani adalah sunnah (muakkad) setara pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Kepala Syafi'i & sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan lazimnya ulama ahli fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai oleh kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai zat yang sunnah muakkadah ialah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya pada hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan guyur darinya kotoran (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Perkataan: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah titah, namun sungguh bersifat tentu, karena siap sabdanya yang memalingkan dari kewajiban yakni: “Barangsiapa di antara kalian terselip yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, jadi silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Serbuk Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan kaidah yang menjungkalkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Raja berkata: Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh pada aqiqah itu hewan yang picak, kurus, patah tulang, dan linu. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam hewan aqiqah itu cacat-cacat yang bukan diperbolehkan dalam qurban.

Buraidah berkata: Lepas kami pada masa jahiliyah apabila cela seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan mengotori kepalanya beserta darah kibas itu. Oleh sebab itu setelah Allah mendatangkan Agama islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) oknum si balita dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Duli Dawud bab 3, sesuatu. 107]

Daripada ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang saat masa jahiliyah apabila itu ber’aqiqah untuk seorang bayi, mereka menconteng kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu begitu mencukur serat si balita mereka mencolekkan pada kepalanya”. Maka Rasul SAW berfirman, “Gantilah darah itu dengan minyak wangi”.[HR. Putri Hibban secara tartib Rumpun Balban bab 12, hal. 124]

Kegiatan aqiqah menurut kesepakatan karet ulama adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hal berikut berdasarkan hadits Samirah dalam mana Nabi SAW bersabda, “Seorang budak terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh & diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Meski tidak juga, maka dalam hari ke-21 atau masa saja ia mampu. Kepala Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) buat dasar permintaan, maka sekiranya menyembelih di dalam hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah sedang. Karena pijakan ajaran Agama islam adalah mempermudah bukan menyulitkan sebagaimana tutur Allah SWT: “Allah menodong kemudahan bagimu dan gak menghendaki ketegangan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini menurut sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi seri. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, & dishahihkan per At Tirmidzi)

Dan jikalau tidak siap melaksanakannya pada hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan dalam hari di empat belas kasihan, dan apabila tidak sanggup, maka di dalam hari di dua persepuluhan satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Rumpun Buraidah daripada ayahnya mulai Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliau berkata yang artinya: “Hewan aqiqah ini disembelih dalam hari ketujuh, ke empat belas, serta ke 2 puluh satu. ” (Hadits hasan riwayat Al Baihaqiy)

Namun sesudah tiga minggu masih gak mampu jadi kapan sekadar pelaksanaannya dalam kala sudah mampu, sebab pelaksanaan di dalam hari-hari ke tujuh, ke empat belas dan di dua puluh satu ialah sifatnya sunnah dan paling utama tidak wajib. & boleh pun melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Bayi yang meninggal dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan pula untuk disembelihkan aqiqahnya, terlebih meskipun budak yang keguguran dengan tuntutan sudah berusia empat kalendar di dalam isi ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada memfilter si balita. Namun jika seseorang yang belum dalam sembelihkan fauna aqiqah sambil orang tuanya hingga ia besar, oleh karena itu dia bisa menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan jikalau tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri dipastikan hal ini tidak apa-apa menurut abdi, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan saat hari ketujuh dari kelahiran. Jika tidak bisa, oleh sebab itu pada hari keempat belas kasihan. Dan jika gak bisa agaknya, maka di hari ke-2 puluh tunggal. Selain ini, pelaksanaan aqiqah menjadi beban ayah.

Tapi demikian, jika ternyata ketika kecil ia belum diaqiqahi, ia sanggup melakukan aqiqah sendiri pada saat kuat. Satu ketika al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah saat besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Imam Ahmad menjawab, “Menurutku, jika ia belum diaqiqahi tatkala kecil, maka lebih bagus melakukannya seorang diri saat dewasa. Aku gak menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga menganggap demikian. Dari sisi mereka, anak-anak yang telah dewasa yang belum diaqiqahi oleh manusia tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Banyak Hewan

Jumlah hewan aqiqah minimal adalah satu ekor baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sesuai perkataan Pelerai demam Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan serta Husain satu domba mono domba. ” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Kita harus ingat bahwa Lembut dan Husain adalah budak kembar. Oleh sebab itu pada mono kelahiran ini disembelih dua ekor kibas.

Namun yang lebih tertinggi adalah dua ekor untuk anak laki-laki dan 1 termuda untuk anak perempuan berlandaskan hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menitahkan agar dsembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki dua ekor sedia dan daripada anak perempuan satu sudut. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Kepala Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang berarti: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki 2 ekor sedia yang selevel dan atas anak dara satu termuda. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan secara ‘aqiqah

Yang berhubungan secara sang bani

1. Disunnatkan untuk meluluskan nama & mencukur sabut (menggundul) saat hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir pada hari Unik, ‘aqiqahnya tanggal pada hari Sabtu.

dua. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor kibas sedang untuk anak cewek 1 termuda.

3. aqiqah murah bandung ‘Aqiqah ini paling utama dibebankan menurut orang tua si anak, akan tetapi boleh juga dilakukan sebab keluarga lainnya (kakek & sebagainya).

4. Aqiqah itu hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Cantik Mentah Ataupun Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan dalam kondisi sudah dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor kibas untuk bani dan mono ekor kibas untuk keturunan perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah diberikan kepada tetangga dan miskin miskin juga bisa dikasih kepada manusia non-muslim. Lagi pula jika hal itu dimaksudkan untuk memukau simpatinya dan dalam kerangka dakwah. Dalilnya adalah petuah Allah, “Mereka memberi mencopet orang melarat, anak yatim, dan tahanan, dengan perasaan senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada ketika itu ialah orang-orang kafir. Namun demikian, keluarga pula boleh menandaskan sebagiannya.

Yang berhubungan beserta binatang sembelihan

1. Di dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa memperlakukan apakah nyali besar atau perempuan, sebagaimana riwayat di pangkal ini:

Dari Ummu Kurz AI-Ka’biyah, bahwasanya ia sudah bertanya terhadap Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka petuah beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor kambing dan untuk anak perempuan satu sudut kambing. Bukan menyusahkanmu indah kambing ini jantan ataupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, pada Nailul Authar 5: 149]

Dan aku belum mendapatkan dalil lainnya yang menampakkan adanya satwa selain kambing yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Ruang yang dituntunkan oleh Nabi SAW menurut dalil yang shahih ialah pada hari ke-7 mulai kelahiran budak tersebut. [Lihat informasi riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Sedangkan dagingnya jadi dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan beberapa dagingnya, & mensedekahkan beberapa lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menimba kerabat dan tetangga untuk menyantap target daging aqiqah yang sungguh matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada umat islam, dan mampu mengundang sohib2 dan moyang untuk menyantapnya, atau mahir juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Rumpun Bazz mengatakan: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya ataupun sebagiannya & memasaknya lantas mengundang orang-orang yang engkau lihat pantas diundang mulai kalangan suku, tetangga, sobat-sobat seiman serta sebagian orang-orang faqir untuk menyantapnya, & hal sedarah dikatakan per Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Bani

Tidak diragukan lagi kalau ada sangkut paut antara maksud sebuah sebutan dengan yang diberi seri. Hal ini ditunjukan dengan adanya sejumlah nash syari yang menyembulkan hal itu.

Dari Bubuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Yang mahakuasa mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 & Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang mengindahkan sunah, ia akan meraih bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam nama berkaitan dengannya sehingga serasa makna-makna itu diambil darinya dan seakan-akan nama-nama ini diambil daripada makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui buah nama-nama terhadap yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah itu:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Hamba datang menurut Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku elakan: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Rumpun Al-Musayyib berkata: “Orang ini senantiasa bergaya keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang elok untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang indah yang ranggi diberikan merupakan nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana petuah beliau: Daripada Jabir Ra dari Nabi SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik pendapat ajaran Islam, silahkan faksi:

Memberi Seri Bayi / Anak Berdasar pada Islami


Memotong Rambut

Memotong rambut merupakan anjuran Rasul yang luar biasa baik untuk dilaksanakan begitu anak yang baru real pada hari ketujuh.

Dalam hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak tersekat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi pamor, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik memberitahukan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Hasan dan Husein lalu beliau menyedekahkan argentum seberat serabut tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan secara rata; bukan boleh cuma mencukur beberapa kepala serta sebagian lainnya dibiarkan. Tentu saja semakin banyak rambut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- tambah besar agaknya sedekahnya.

Undangan Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Memiliki arti: Dengan pamor Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) atas Muhammad dan keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa bocah baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Artinya: Aku berlindung untuk bujang ini dengan kalimat Sang pencipta Yang Tertib dari segala gangguan syaitan dan seloroh binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat leta bagi apa-apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Pendapat Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di 1 buah situs mempunyai beberapa hikmah diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim USA tatkala Sang pencipta SWT menyelesaikan putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Pada aqiqah berikut mengandung point perlindungan daripada syaitan yang dapat mengganggu anak yang terlahir ini, dan ini sesuai secara makna hadits, yang berarti: “Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Sehingga Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Yang mahakuasa lebih terjamin dari gangguan syaithan yang sering meniadakan anak-anak. Hal inilah yang dimaksud sebab Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sambil aqiqahnya”.

3. Aqiqah ialah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak dalam hari perhitungan. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat untuk kedua manusia tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan wujud taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud mencicip syukur buat karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya sang anak.

5. Aqiqah sebagai sarana menampakkan rasa makmur dalam mengerjakan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukminat yang dengan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah mendindingi ukhuwah (persaudaraan) diantara suku.

Dan sedang banyak juga hikmah yang terkandung pada pelaksanaan Syariat Aqiqah ini.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin & diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Bentala al-Bustoni, dengan judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Post by buur50mead (2017-01-13 20:49)

Post your comment:

Name: Email: Site:


| Explore users | New posts | Create your blog | Create your photo album |
| About Postbit | Our blog | Terms of use | Contact Postbit |


Copyright © 2018 - postbit.com